Seni pertunjukan tari Sunda di Jawa Barat terus mengalami metamorfosis estetis yang mencerminkan dinamika kultural masyarakatnya. Secara historiografi etnokoreologi, seni tari Sunda dibentuk oleh tiga rumpun besar (genre) yang diusung oleh tiga tokoh pembaharu utama: Rd. Sambas Wirakusumah yang merintis genre Tari Keurseus (1920-an), Rd. Tjetje Somantri yang melahirkan genre Tari Kreasi Baru (1950-an), dan Gugum Gumbira Tirasondjaya (bersama H. Suanda) yang menggebrak dengan lahirnya genre Tari Jaipongan pada akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an.
Kehadiran Jaipongan sebagai Genre Tari Generasi Ketiga membawa paradigma estetik baru yang bersifat egaliter. Berbeda dengan generasi pertama dan kedua yang bertumpu pada pakem bangsawan (*menak*) atau ketatnya tata panggung kreasi, Jaipongan mengintegrasikan empat elemen utama tradisi kerakyatan: Penca Silat/Maenpo, Ketuk Tilu, Topeng Banjet, dan Bajidoran.
Struktur Koreografi Empat Fase
Berdasarkan studi fenomenologi etnokoreologi, struktur garap tari Jaipongan dibangun di atas empat fase ragam gerak yang sangat adaptif dan saling melengkapi:
A. Varian Jaipong Wayang
Jaipong Wayang adalah bentuk pembaharuan kreasi yang menyintesiskan kelincahan struktur Jaipongan dengan ekspresi lakon pewayangan (Ramayana & Mahabarata). Salah satu mahakarya dari rumpun ini adalah Tari Jaipong Wayang Subali Sugriwa karya Yayan Shofiyan (Bengkel Jaipong Galak Sinongnong'Art).
Secara estetik, tarian ini menggabungkan imitasi gerak binatang (kera) dengan motif tari wayang yang diklasifikasikan ke dalam empat kategori etnokoreologis: locomotion (berpindah tempat), pure movement (gerak murni), gesture (gerak maknawi), dan baton signal (penegas ekspresi).
B. Varian Jaipong Kesut
Secara terminologi teknik tari, kesut merujuk pada aksen perpindahan atau transisi variasi gerak yang dilakukan secara tajam dan dinamis pasca-gerakan ngala. Dalam rumpun karya, Jaipong Kesut menonjolkan keceriaan, spontanitas, humanisme, serta ketegasan karakter perempuan Sunda yang mandiri dan pantang menyerah.
Ragam tari Jaipong Kesut memadukan ritme musik gending yang fleksibel dengan pergerakan torso dan aksen tepak kendang yang rapat, menjadikannya gaya Jaipongan yang sangat digemari dan kerap dipentaskan pada festival budaya internasional.
Referensi Acuan Ilmiah:
- Ramlan, L. (2013). Jaipongan: Genre Tari Generasi Ketiga dalam Perkembangan Seni Pertunjukan Tari Sunda. Jurnal Resital (STSI/ISBI Bandung).
- Rusliana, I. (2010). Tari Seni Pertunjukan Jawa Barat. Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.
- Sumardjo, J. (2003). Simbol-Simbol Artefak Budaya Sunda. Bandung: Kelir.
Dalami Seni Tari Jaipongan Bersama Sanggar Tari Pringgondani!
Mari mengasah bakat, memahami filosofi tradisi, dan meraih prestasi di kancah nasional bersama pelatih profesional di Kota Depok.
Informasi Pendaftaran Anggota Sanggar